RagamSinjai

IKAN SUNGAI BEJOE SINJAI

CERPEN

BUDAYA,_Oleh Dul abd Rahman:Kami penduduk Kampung Tengnga atau Alenangka, Sinjai Selatan,Kab.Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, lazim menyebutnya sebagai calo-calo. (Sebutan bahasa Bugis-red)

Tetapi orang-orang dari kampung jiran menyebutnya sebagai sungai.

Maka, tempat itu kusebut pula sungai. Namanya Sungai Bejo atau Bejoe. Mereka menyebut pula sungai keramat. Saat itu aku tidak percaya.

Sewaktu masih kecil dulu, aku bersama teman-teman sering bermain di sungai itu. Tapi ada bagian sungai terlarang dikunjungi. Di tempat itu, terdapat beberapa ikan masapi (moa) besar yang dianggap bertuah dan keramat.

Masapi-masapi itu adalah ‘penunggu’ sungai.

Ada seekor masapi yang dianggap paling bertuah.

Ciri khasnya, di bagian tubuhnya terdapat codet bekas sayatan berwarna putih. Konon, semua masapi bahkan semua jenis ikan yang ada di sungai itu berada dalam kekuasaannya.

Banyak orang yang berkunjung ke sungai itu membawa macam hajat. Mereka percaya, bila memberi makan masapi besar itu, maka hajatnya akan tercapai.

Pengunjung yang ingin ke sungai itu harus ditemani oleh seorang tetua yang disebut Puang Sanro. Hanya Puang Sanro yang bisa mendatangkan masapi itu.

Orang-orang yang berhajat yang hendak bertemu masapi itu harus menyiapkan beberapa menu persembahan seperti songkolo tiga warna; hitam, putih, dan merah.

Ketiga jenis songkolo itu dibuatkan tempat terpisah, kemudian masing-masing dilengkapi seekor ayam yang sudah masak dengan bumbu khas. Hidangan ayam harus utuh satu ekor. Kata Puang Sanro, bila tidak utuh, masapi besar itu tidak mau muncul.

Aku sebagai keluarga dekat Puang Sanro senang bila ada orang berkunjung ke sungai itu, karena aku dan teman-teman bisa makan sepuas-puasnya. Tetapi kami harus main kucing-kucingan dengan Puang Sanro.

“Pantas saja orang tuamu di Makassar mengirimmu ke Sinjai bersekolah karena kau sangat nakal.”

Puang Sanro memaki-maki diriku ketika ia menemukan aku bersama teman-temanku menghabisi makanan yang sebenarnya diperuntukkan untuk masapi sungai Bejoe. Aku memang suka usil bersama teman-temanku.

Awalnya teman-temanku takut, tapi aku katakan kepada mereka bahwa tidak mungkin kita kena kutukan. “Tak mungkin ikan itu lebih kuasa daripada manusia.” Begitu kataku. Akhirnya mereka ikut bersamaku menikmati hidangan gratis sungai Bejoe.

“Labuaja kau,” maki Puang Sanro kepadaku suatu ketika.

Biasanya bila melihat Puang Sanro bersama orang yang berhajat pergi ke sungai, kami diam-diam mengikutinya.

Ada tempat khusus tempat Puang Sanro berkunjung yaitu di bawah sebuah pohon garoci (pohon loa) yang besar dan lebat. Di sisi kiri sungai itu agak landai dan ditumbuhi banyak garoci dan pepohonan lebat lainnya. Biasanya aku dan teman-teman mengumpet disitu sambil mengintip ke bawah.

Kami melihat Puang Sanro bersama orang-orang yang berhajat duduk di atas batu besar. Orang-orang yang berhajat lalu membuang telur, lalu ketika masapi besar itu datang, mereka membentangkan kain putih. Orang-orang berhajat beramai-ramai memegang kain putih. Puang Sanro ikut memegang kain putih itu dengan mulut komat-kamit membaca mantra. Setelah itu, mereka meletakkan sesajian berupa songkolo dan ayam yang sudah masak dipinggir sungai di atas batu besar. Sebelum mereka meninggalkan tempat itu. Mereka membuat ikatan di batang pohon garoci besar.

“Tenang! Sebentar lagi mereka akan meninggalkan tempat ini,” aku berbisik kepada teman-temanku sebagai arahan.

“Mereka berhajat, kalau hajatannya terkabul maka mereka akan ke sini lagi melepas ikatan itu,” Pudding berujar ketika melihat seorang gadis berumur senja ikut membuat ikatan di batang pohon.

“Kalau laki-laki itu, untuk apa ia kesini?” tanyaku.

“Yang memakai songkok haji itu?”

“Ya.”

“Ia calon anggota dewan.”

Beberapa jenak kemudian orang-orang berhajat meninggalkan tempat itu ditemani Puang Sanro. Itulah saat yang paling tepat buat kami untuk menikmati ‘hidangan’ gratis. Kami berlarian turun ke bawah lalu menyikat habis makanan itu.

Biasanya kami bukan hanya melahap habis hidangan itu, tapi juga suka iseng melepas ikatan-ikatan yang melilit beberapa pohon garoci di tepi sungai. Ada juga temanku yang iseng-iseng membuat ikatan.

“Mana ikatanmu Beddu?” Pudding bertanya padaku sekaligus sebagai saran. Diantara kami berlima, cuma aku yang tidak mau iseng-iseng mengikat. Aku bahkan melepas ikatan Pak Haji yang caleg dari partai berbasis keagamaan itu.

“Jangan lepas, Beddu! Kan aku membuat ikatan supaya bisa berjodoh dengan putri Pak Haji nanti.”

Aku terus melepas ikatan Pak Haji tanpa menghiraukan keberatan Pudding. Sementara yang lain ikut mengikat sambil tertawa-tawa. Masing-masing aku dengar berhajat seragam.

Mereka berhajat bisa memacari lalu mempersunting gadis desa yang cantik.

Dua bulam kemudian, kami bertemu lagi dengan teman-temanku. Pudding cemberut.

“Gara-gara kau Beddu melepas ikatan Pak Haji sehingga ia gagal jadi anggota dewan,” Pudding bersungut-sungut. Rupanya ia sudah berhasil memacari putri Pak Haji.

“Itu kebetulan saja Pudding. Kau juga kebetulan bisa memacari putri Pak Haji karena ia teman sekelasmu. Tapi kalian belum tentu berjodoh, kalian masih cinta monyet, masih anak SMP.”

“Pudding memang masih monyet.”

Teman-teman yang lain menimpali. Tapi aku tahu mereka bercanda, karena Pudding lah yang paling cakep diantara kami, sehingga tentu saja putri Pak Haji mau berpacaran dengannya.

Kemudian kami semua terbahak-bahak berlarian menuju sungai Bejoe, karena kami melihat Puang Sanro baru saja pulang dari sana bersama orang-orang yang berhajat. Kami benar-benar melahap hidangan lezat itu. Hanyalah Pudding yang kelihatan tidak bersemangat.

Hari itu memang hari terakhirku bersama teman-temanku menikmati hidangan gratis nan lezat sungai Bejoe karena aku akan dipindahsekolahkan ke Makassar.

Aku dengar Puang Sanro memberitahu orang tuaku di Makassar. Katanya, aku semakin nakal di Sinjai dan lebih baik sekolah saja di Makassar, dan kalau perlu dimasukkan di Pesantren IMMIM.

“Buatlah juga ikatan, Beddu! Mudah-mudahan kelak kau bisa kembali ke sungai ini untuk melepas ikatan sambil melamar putri bapak Kepala Desa Alenangka.”

“Akh! Nanti sajalah. Tanpa buat ikatanpun aku bisa melamarnya,” jawabku menyombongkan diri.

Usiaku menjelang empat puluh tahun. Tapi aku masih sendiri. Bukannya aku tak mau menikah, cuma aku merasa belum sanggup. Dengan pekerjaan yang tak menentu, aku cemas-cemas harap bila mau melamar anak gadis orang.

Aku memang pernah kuliah di Fakultas Sastra tapi tidak selesai. Saat ini aku bergelut di bidang lingkungan hidup bersama LSM yang aku bentuk. Terkadang pula aku menjadi penulis freelance di beberapa media massa, baik lokal maupun nasional. Tapi aku merasa tetap tidak cukup. Melamar perempuan Bugis-Makassar bukan hanya butuh nyali besar, tapi juga modal besar.

Pernah aku mendekati seorang gadis dan bermaksud melamarnya, tapi belum apa-apa aku kabur duluan, karena orang tua gadis itu duluan mematok harga. Untuk menikahi putrinya aku diminta menyiapkan uang panai seratus lima puluh juta rupiah. Pernah juga aku melamar seorang gadis, tapi aku ketiban sial.

Pada saat yang sama ada laki-laki lain melamar gadis itu. Meski gadis itu lebih memilih aku, tapi ia harus mengikuti kehendak orang tuanya yang memilih laki-laki lain yang notabene seorang PNS.

Aku dengar kabar kalau teman-teman sepermainanku dulu di sungai Bejoe di Sinjai sudah menikah. Pudding berhasil menggaet anak Pak Haji yang kini jadi pedagang coklat dan cengkih yang sukses.

Sedangkan yang lainnya berhasil mempersunting gadis idamannya sesuai hajat yang mereka ikatkan dulu di pohon garoci.

“Jalan-jalanlah ke Sinjai, Beddu. Kampung halaman kita sudah banyak yang berubah, termasuk sungai Bejoe.”

“Oke Pudding. Aku memang bermaksud ke Sinjai sekaligus membawa hajat.”

“Kau pasti ingat lagi masapi dan pohon garoci yang dulu kan?” ketawa kami yang terbahak-bahak menutup pembicaraan di telepon. Aku memang tiba-tiba rindu kampung halaman. “Semoga masapi dan pohon garoci besar itu masih ada.”

“Oh, disini sudah banyak berubah, Nak.” Puang Sanro yang sudah berganti gelar menjadi Pak Imam berkisah kepadaku dengan tenang. Tutur katanya yang lembut dan tenang sangat berbeda dengan tempo dulu.

“Bagaimana dengan sungai Bejoe, Puang?”

“Sungai itu tidak lagi seperti dulu. Airnya sudah keruh, karena hutan lindung yang menjadi hulu serta bantaran sudah gundul.”

“Apakah sungai Bejoe tidak lagi mempunyai berkah seperti dulu, Puang?”

“Tidak lagi Nak. Bahkan sebaliknya sekarang, sungai Bejoe selalu membawa bencana, setiap musim hujan tiba selalu terjadi banjir bandang.”

“Lalu bagaimana dengan masapi dan pohon garoci itu, Puang?”

“Nak Beddu! Nak Beddu! Untuk apalagi kau menanyakan semua itu? Tidak ada lagi ikan yang mau hidup di sungai Bejoe karena sungai itu sudah tercemar. Pun pohon-pohon besar itu sudah tumbang karena abrasi.”

“Jadi pohon garoci besar itu sudah tidak ada lagi, Puang?”

“Betul Nak. Orang-orang di kampung ini juga merasa tak perlu lagi mengikat hajat di pepohonan.”

Aku kaget. Aku terdiam. Aku sudah tahu keadaan kampung ini dari Pak Imam. Aku menenangkan diri. Lalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Sementara tangan kiriku mencoba memperbaiki posisi tali yang terbuat dari kain putih di saku celanaku. Aku harus menyembunyikan tali itu.

Catatan:

  1. Calo-calo, sungai kecil. Penulis sengaja menyebut Sungai Bejoe sebagai calo-calo, sebab sungai itu hanyalah DAS Sungai Afareng
  2. Puang Sanro, orang pintar, dukun
  3. Labuaja, dari kata ‘buaya’ atau ‘buas’ maksudnya rakus
  4. Panai, uang mahar

Sekedar kabar.Dul Abdul Rahman. Saat ini sudah menulis 18 buku sastra. Diantaranya: Pohon-pohon Rindu (Diva Press Yogyakarta 2009), Terbunuhnya Sang Nabi (Kakilangit Jakarta 2017), Pada Sebuah Perpustakaan di Surga (Penerbit Ombak Yogyakarta 2018).

Laporan wartawan targettuntas.co.id

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button