Berita UtamaSultra

Oleh : Armanto Laberese ,mengutip info seputar kerajaan etnis “sejarah Tamalaki”

Sultra_Target Tuntas.co.id-Secara Etimologi dapat diartikan sebagai berikut yaitu terdiri dari dua suku kata ‘TAMA’ dan ‘LAKI’. TAMA dalam kosa kata bahasa Tolaki artinya adalah Lelaki, Jantan, Perkasa, Kuat, Tangguh, sedangkan kata LAKI dapat diartikan sebagai seorang pemberani. Jadi Tamalaki adalah Seorang Laki – laki yang sangat tangguh dan dapat diandalkan dengan keberanian yang dimilikinya untuk melindungi segenap suku bangsa Tolaki. (04/03/2021)

Secara Terminologi kata TAMALAKI adalah seorang Ksatria dari suku Tolaki yang berfungsi sebagai Pasukan Kerajaan dan Hulubalang perang kerajaan Tolaki.
Jadi istilah ‘Tamalaki’ adalah istilah yang berlaku umum bagi kaum adam dari kalangan masyarakat Tolaki yang siap mengabdikan dirinya kepada kerajaan sekaligus bersedia menjalankan perintah pemimpinnya untuk menjadi Benteng hidup dan alat (pondondo wonua) dalam bertahan maupun menyerang musuh kerajaan.
Tolaki sendiri adalah salah satu suku bangsa terbesar yang mendiami jazirah sulawesi tenggara dimana pada masa lalu pernah memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan ‘Mekongga dan Konawe’
Dalam Tatanan masyarakat Tolaki, Tamalaki adalah salah satu kasta Ksatria yang memiliki keistimewaan tersendiri dimana seseorang yang bergelar Tamalaki memiliki tanggungjawab besar dipundaknya.

Gelar Tamalaki dalam sejarahnya akan diberikan pada seorang laki – laki dewasa apabila telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan teruji ketika diterjunkan kedalam arena peperangan. Bila ditinjau dari aspek Historis, Tamalaki adalah gelar yang diberikan kepada seorang laki – laki dewasa apabila di medan perang mampu membunuh musuhnya serta memenggal kepalanya (monga’e) lalu menjadikan tengkorak musuhnya sebagai wadah untuk meminum air.

Hal ini sekaligus menjadi penanda bagi seorang bisa dikatakan telah Dewasa dan sempurna sebagai seorang ksatria apabila telah mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh kerajaan.

Tamalaki adalah simbol kekokohan Kerajaan Tolaki dalam mempertahankan eksistensi kerajaan serta menegakkan kedaulatan orang Tolaki. Secara Filosofis, Tamalaki, sebagai pasukan yang umumnya terdiri dari para lelaki dewasa merupakan simbol yang bermaka kejantanan (Polanggaia), keperwiraan (Kapita), keberanian (moseka), kesetiaan/loyalitas tanpa batas dan penjaga marwah kerajaan/kemokolean Konawe dan Kebokeoan Mekongga. Hal ini dapat dilihat dari beberapa simbol yang digunakan, seperti ikat kepala warna merah (Kasaeda) dan dilengkapi dengan senjata, taawu. Dari sisi ideologis, Tamalaki merupakan suatu gelar yang istimewa dalam mengabdikan dirinya secara totalitas terhadap pemimpinnya serta mampu melindungi adat yang disimbolkan dengan ‘KALO SARA’.

Dalam Jiwa para Tamalaki selalu memegang Prinsip sesuai semboyannya “Labirai mate ano amba metuka bunggu”. Jika diterjemahkan bermakna “Lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus mundur walau hanya sejengkal”.

“Sepak Terjang Tamalaki”

Selain sebagai gelar umum bagi setiap laki – laki dalam suku Tolaki, seorang Tamalaki juga bisa mendapatkan gelar gelar istimewa lainnya yang tentu saja menggambarkan level ke-Tamalakiannya yang tinggi. Di Konawe, adalah seorang ‘Wutu’ahu’ atau yang di gelar dengan “Anakia Ndamalaki” (era Kemokolean Wekoila) yang sangat tersohor dimasanya sebagai panglima perang kerajaan Konawe yang pertama – tama menjadi cikal bakal penamaan gelar Tamalaki di tubuh masyarakat Tolaki (Adjemain Soroambo, M.Sos).

Anakia Ndamalaki juga mendapat julukan lain yaitu ‘Pakandeate’ atau Pakandre ati’ dimana gelar tersebut diberikan oleh bangsawan ditanah bugis atas kemampuannya dimedan perang ketika menghabisi musuhnya dengan cara memakan organ tubuh berupa Hati.

Makam Anakia Ndamalaki saat ini telah menjadi salah satu situs sejarah di konawe, hal ini ditandai dengan dijadikannya sebagai Cagar Budaya Nasional makam Pakande’ate yang terletak di Lerehoma Kabupaten Konawe. Di Mekongga, adalah seorang raja Mekongga yang bergelar “Sangia Nibandera” dikisahkan pernah memimpin pasukan Tamalaki terbaiknya dari Mekongga untuk membantu kedatuan Luwu mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari serangan musuh yang ingin menaklukan kedatuan Luwu sekitar abad ke 17 (Nur Saenab Lowa).

Makam Sangia Nibandera pun saat ini telah masuk kedalam cagar budaya nasional.
Berbagai Kisah para Tamalaki Wonua terus berlanjut sejak dulu hingga di era moderen kini, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pemuda – pemuda Tolaki yang saat ini tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) mencoba bangkit dari tidur panjangnya dengan kesadaran penuh untuk menjaga eksistensi adat dan budaya Tolaki.

“Ritual Tamalaki”

Dalam Melakukan eksvansi para Tamalaki sebelum turun ke medan perang akan terlebih dahulu melakukan berbagai persiapan, tak terkecuali dengan sejumlah ritual sakral yang menjadi kegiatan Wajib para pasukan Tamalaki. Pasukan Tamalaki akan memilih waktu yang paling tepat dalam melepaskan pasukan menuju wilayah yang akan dijadikan arena perang. Dalam keyakinan Tamalaki, waktu yang tepat adalah angka Satu, sembilan, tujuh belas dan dua puluh lima atau biasa disimbolkan dengan ‘Matahari’ (Prof. A. Tarimana)
Diantara ritual itu adalah melakukan Tarian ‘Umo’ara’ sebagai pengantar para pasukan Tamalaki saat hendak menuju medan perang.

Selanjutnya pasukan Tamalaki ini akan dipimpin oleh seorang panglima yang bergelar ‘Tadu’. Seorang Tadu bersama kelompok kecilnya yang terpisah dari pasukan utama akan memandu para Tamalaki dari suatu tempat dengan cara menyalakan obor yang terbuat dari kayu damar sambil melafalkan sejumlah mantra guna melundungi para Tamalaki yang sedang berperang (Albert C Kruyf). Tamalaki sendiri memiliki keyakinan yang tinggi terhadap “Sangia Mbonga’e atau dewa perang yang diyakini selalu siap melindungi mereka di medan perang, sehingga dengan moral dan semangat tinggi mereka maju ke medan perang.

Tamalaki sebagai Pasukan penjaga adat.
Selain dari fungsinya sebagai Hulubalang Perang kerajaan, Tamalaki juga berfungsi dalam menjaga seluruh aturan adat dan aturan sosial lainnya yang berlaku dalam internal masyarakat Tolaki. Tamalaki juga memiliki tugas yang tidak kalah beratnya dalam menjaga sejumlah aturan Adat yang telah menjadi aturan baku yang berlaku pada masyarakat agar tetap berjalan sebagaimana mestinya, dengan kata lain Tamalaki diberi tugas oleh Kerajaan untuk terlibat aktif mengontrol jalannya pemerintahan demi tegaknya nilai – nilai “Kalo Sara” dari berbagai upaya pembangkangan yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Senjata KhasTamalaki”

Orang – orang Luwu pernah menggambarkan keberanian para Tamalaki di Mekongga dengan ungkapan.”Sessana Bombang Tawana Sinangke” yang artinya adalah Sisanya Ombak dilautan maka bagiannya adalah parang sinagke / Taawu. Dalam bahasa tolaki yaitu “Toreano Laewo Tadono Taawu”.

Adapun beberapa senjata Khas Tamalaki serta perlengkapannya berupa parang (Taawu), Tombak (Karada), Tameng (Kiniya) dan lainnya. Senjata – senjata yang disebutkan diatas dibuat dengan bahan berkualitas tinggi yang diambil dari sekitar danau matana lalu ditempa oleh pengrajin besi (Mbusopu) dari Sanggona.

Pegunungan Verbeek terletak di wilayah Sulawesi Tenggara, Selatan dan Tengah yang pernah aktif ribuan tahun lalu. Setelah eruvsi maka verbeek mengeluarkan isi perutnya yang menyebar ke Mekongga dan Konawe. Kandungan material yang terdiri dari biji besi yang kaya dan berkualitas nikel dan baja inilah yang kemudian menjadi bahan baku pembuatan senjata Tamalaki (AN Lapae).

Seiring dengan masuknya Islam di bumi Anoa Sulawesi Tenggara beberapa abad silam, maka tradisi – tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam mulai ditinggalkan oleh orang Tolaki secara perlahan hingga akhirnya tidak lagi ditemukan kebiasaan memenggal kepala tersebut.

Kiprah Tamalaki dari masa ke masa terus mewarnai perjalanan suku bangsa Tolaki sebagai suatu entitas. Tamalaki selalu mengambil peran penting dalam melindungi suku bangsa Tolaki dari berbagai pihak yang ingin merongrong kedaulatan Tolaki. Di era perlawanan penjajah asing hingga menjelang kemerdekaan NKRI, para Tamalaki melakukan perlawanan dalam mengusir penjajah dari Nusantara. Baik di Mekongga maupun di Konawe, para Tamalaki tampil kedepan menjadi benteng bagi masyarakat Tolaki. Salah satunya adalah kisah heroik para Tamalaki bersama rakyat dalam menghadang konvoi NICA BELANDA pada bulan November 1945 di Kolaka.

Demikian halnya ketika negara ini baru saja merdeka, ketika terjadi pemberontakan DI/TII di bumi Anoa maka para Tamalaki pulalah dalam hal ini “Pasukan Djihad Konawe” (PDK) yang menjadi tameng bagi masyarakat Tolaki untuk melawan penindasan yang dilakukan para gerombolan kala itu. Saat ini ita dapat melihat banyaknya organisasi kepemudaan Tolaki yang muncul dengan konsep menjaga penegakan hukum adat di tanah leluhurnya. Salah satunya adalah “Banderano Tolaki” yang cukup aktif dalam menjaga dan mengawal penegakan hukum adat di wilayah hukum adat Tolaki.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin menyampaikan beberapa hal terkait penggunaan istilah ‘Tamalaki’ yang belakangan ini diduga terjadi distorsi pemahaman sesama pemuda Tolaki sehingga berujung saling klaim tentang siapa yang paling berhak menggunakan istilah TAMALAKI yaitu :

Bahwa ‘Tamalaki’ adalah istilah universal yang boleh digunakan oleh siapa saja pemuda Tolaki yang memiliki semangat dalam menjaga dan melestarikan nilai nilai “Kalo Sara”.
Istilah Tamalaki tidak boleh diklaim sebagai milik seseorang atau satu kelompok Tolaki saja karena dalam sejarahnya istilah ini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu dan pernah digunakan di dua kerajaan besar milik suku Tolaki.
Tamalaki adalah gelar bagi para kesatria Tolaki dimasa lalu yang selalu memegang teguh falsafah “Kalo Sara”.
Tamalaki merupakan benteng kokoh bagi suku bangsa Tolaki yang selalu berdiri terdepan dalam membela hak – hak orang Tolaki
Karena keistimewaannya maka hendaknya siapa saja yang menggunakannya agar bisa menjaga sikap dan perilakunya sebagai seorang ksatria sejati.
Sebagai warisan Leluhur Tolaki dalam konteks kearifan lokal (local wisdom) maka Tamalaki telah bersemayam dalam jiwa para pemuda Tolaki saat ini dalam upayanya menjaga dan melindungi Adat dan Kebudayaan Tolaki.
Semoga dengan hadirnya Tulisan ini dapat mengedukasi segenerasi Tolaki mengenai ‘TAMALAKI’.

Salamu Mepokoaso
“inae Kona sara iee pinesara, inae lia sara iee pinekasara”.

Red Supriadi Buraerah (SuBur)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button