Barru

DOSA-DOSA BUKU PAKET

Barru – targettuntas online – Hampir tak pernah ada kritikan terhadap keberadaan buku paket sebagai bahan ajar dalam proses belajar mengajar di tingkat sekolah menengah pertama dan atas selama ini. Kecuali anjuran untuk melakukan evaluasi terhadap muatan buku paket tersebut yang juga tidak selalu ditaati oleh guru sebagai pengguna buku paket di sekolah. Yang dimaksud buku paket di sini adalah “buku pegangan siswa”  yang belakangan juga telah diterbitkan “buku pegangan guru” untuk melengkapinya, hadir untuk mempermudah tugas-tugas mengajar guru di kelas — sebagai solusi untuk mengatasi kemalasan guru membuat bahan ajar sendiri dalam bentuk modul dan lembar kerja siswa (LKS). Buku paket hadir sebagai “referensi instan” menggantikan referensi otentik kepustakaan yang seharusnya dibaca oleh guru maupun siswa selama satu semester atau satu tahun.

Kehadiran buku paket di sekolah –diakui atau tak- memang menjadi bagian penting proses belajar mengajar. Banyak guru yang tak bisa berkutik di dalam kelas tanpa kehadiran buku paket di tangannya. Buku paket sudah menjadi segala-galanya. Menjadi bahan sekaligus media, juga kadang-kadang menjadi pengganti guru saat mengajar ketika guru punya kepentingan di luar sekolah. Buku paket bisa dititip pada ketua kelas untuk dicatet, sehingga lahirlah plesetan “CBSA” (Catet Buku Sampai Abis). Tak ada kekhawatiran bahwa pelajaran siswa akan menyinpang dari alur kurikulum karena buku paket dibuat berdasarkan kurikulum yang berlaku; berdasarkan silabus yang memuat kompetensi-kompetensi dasar yang memang harus dipelajari siswa dalam satu semester. Karena itulah manakala ada kekeliruan yang dibuat oleh para penulis buku paket –yang menurut guru tidak sesuai dengan silabusnya, maka guru cepat-cepat bereaksi: protes buku ini salah, tidak sesuai dengan urutan-urutan silabus, tidak boleh digunakan !  Guru menjadi lupa bahwa posisi buku paket sesungguhnya hanyalah sebagai bahan ajar. Gurulah yang harus menyesuaikan bahan-bahan ajar itu dengan program yang telah direncanakannya pada RPP.  Dan RPP dibuat mengacu pada silabus, bukan pada buku paket. Karena itu logikanya, kendati buku paket tak tersedia sekalipun guru harus mempu mencari bahan ajar yang lain, misalnya dari majalah, surat kabar, buku-buku referensi yang tersedia di perpustakaan atau membuat sendiri modul pembelajaran yang sesuai dengan silabus.

Pada kenyataannya masih banyak guru yang membuat Program Semesternya berdasarkan urutan-urutan buku paket. Tidak berdasarkan silabus. Jika ditanya mengapa demikian mereka mengatakan bahwa buku paket itu sudah dibuat sesuai dengan silabus. Jadi untuk lebih gampangnya mereka membuat persiapan mengajar berdasarkan buku paket saja. Ini bukan cerita konyol tapi fakta yang sering ditemukan oleh Kepala Sekolah maupun Pengawas saat melakukan supervisi akademik dengan sasaran perangkat pembelajaran guru. Disamping itu, kadang-kadang juga perangkat pembelajaran (RPP dan kelengkapan lainnya) tidak lagi menjadi bagian penting administrasi PBM. Tapi yang penting ada adalah…buku paket ! Di sinilah “dosa-dosa” buku paket bermula.


Jauh sebelum Kurikulum 2013 penggunaan buku paket sebagai bahan ajar sesungguhnya telah dikenal dan menjadi harapan guru untuk mengatasi kesulitan bahan ajar di sekolah. Saking pentingnya buku paket itu sehingga buku paket sudah identik dengan “buku siswa”. Ia bahkan disebut sebagai “buku wajib” untuk membedakannya dengan buku-buku referensi lain yang sering disebut secara peoratif sebagai “buku penunjang”. Padahal kalau kita mau berpikir kritis buku-buku referensi inilah yang akan memberikan “pengayaan” bagi siswa dengan keberagaman pemikiran yang ada di dalamnya. Sebuah buku referensi yang jika seandainya menjadi bahan ajar bagi guru –meski tidak instan sifatnya karena isinya tak semua bersesuaian dengan alur program pembelajaran (silabus) maka akan menawarkan beragam pemikiran yang niscaya akan menambah wawasan guru maupun siswa.

Saat siswa belajar bahasa Indonesia misalnya, dan sedang mempelajari aspek-aspek cerita pendek, buku paket memang mungkin telah menyediakan sebuah teks cerita pendek tertentu yang memperlihatkan adanya aspek-aspek tersebut. Tetapi buku paket hanya dapat menawarkan sebuah contoh yang instan dengan pembahasan-pembahan yang telah disesuaikan. Sangat beda jika siswa diarahkan ke perpustakaan untuk mencari “referensi” asli buku kumpulan cerita pendek karya para cerpenis terkenal dan menganalisis aspek-aspeknya. Di sini akan nampak keberagaman, keluasan ‘frame of referens’, pengayaan, dan pengalaman literasi yang secara otomatis akan menambah wawasan siswa tidak hanya pada aspek yang sedang dipelajari. Tetapi begitulah, dengan alasan waktu yang terbatas sangat jarang guru mau memanfaatkan “perpustakaan” sebagai tempat “penelitian” atau “kajian” mata pelajaran. Sama halnya dengan mata pelajaran IPA yang sangat jarang guru IPA yang mau memanfaatkan laboratorium untuk penelitian dan praktik dengan berbagai alasan. Salah satu alasan mengapa guru enggan memanfaatkan sumber-sumber lain sebagai sumber belajar karena buku paket telah menyediakan segalanya secara instan. Untuk apa membaca atau mengkaji puluhan buku-buku referensi yang tebal-tebal di perpustakaan jika apa yang dibutuhkan telah tersedia dalam sebuah buku instan yang tipis. Tentu saja tidak semua guru berprinsip demikian karena guru yang baik akan tetap kreatif memanfaatkan semua potensi yang ada di sekolahnya.

Dengan demikian buku paket yang kini “merajai” dunia pendidikan dasar dan menengah (salah satu pemicu keadaan ini dengan dibolehkannya membelanjakan dana BOS untuk membeli buku paket yang tidak seimbang dengan belanja buku pengayaan perpustakaan) telah menciptakan kondisi “textbook thinking” pada guru dan siswa. Pemikiran literatif-budaya pun jadi merosot. Guru dan murid tak terbiasa membaca buku-buku referensi yang menjadi sumber energi bagi cara berpikir literatif.

Keadaan ini memang tak semuanya menjadi dosa buku paket. Karena rendahnya minat baca siswa dan juga guru di Indonesia juga disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu di antaranya adalah cepatnya bangsa kita mengenal dan kemudian mengakses media elektronik (seperti televisi, HP, dan semacamnya) sebelum kita memiliki kecintaan pada media baca (seperti buku, surat kabar, majalah dan sebagainya). Selain itu ada kecendrungan bangsa kita memang lebih mewarisi karakteristik kelisanan dari pada keberaksaraan dalam berkomunikasi. Itulah sebabnya banyak diantara kita lebih suka bertanya tentang sesuatu pada orang lain dari pada membaca petunjuk tentang sesuatu. Meski demikian buku paket yang sifatnya instan ini memang bisa pula menjadi salah satu penyebab lemahnya keberaksaraan kita. Anak-anak kita di Sekolah Menengah banyak yang tak mengenal buku-buku lain selain buku paket. Sementara gerakan nasional pengembangan Literasi Sekolah yang didengung-dengungkan oleh pemerintah (dalam praktik membaca 15 menit buku lain selain buku paket yang menjadi buku wajib sebelum pelajaran dimulai) tak juga banyak mempengaruhi cara berpikir guru dan siswa yang terlanjur sebagai penghayat “textbook thinking”. Dan ini pulalah yang menyebabkan wawasan mereka lemah setelah mereka menjadi mahasiswa dan telah diwajibkan membaca sekian banyak buku referensi untuk menyelesaiakan sebuah mata kuliah. Keadaan ini berbeda dengan keadaan sekolah-sekolah di negara maju seperti Amerika Serikat di mana siswa tak disuguhi dengan buku-buku instan yang telah dikemas dalam bentuk “buku paket”, melainkan selalu diarahkan ke perpustakaan untuk mengkaji pelajarannya melalui buku-buku referensi yang tebal-tebal.

Keprihatinan seperti ini sesungguhnya telah lama diungkapkan oleh para pengamat pendidikan dan kebudayaan seperti Taufik Ismail yang pernah menyebut bahwa pelajar kita di Indonesia membaca nol buku dalam satu tahun. Sangat beda dengan pelajar-pelajar di negara tetangga Malaysia yang diberi target oleh gurunya untuk membaca sekian buku sastra (novel misalnya) dalam satu tahun. Pelajar-pelajar kita, kata Taufik Ismail, adalah produk ringkasan novel. Tentu karena hanya “ringkasan novel” yang dapat termuat dalam sebuah buku paket. Novel aslinya tak terbaca di perpustakaan – jika pun memang tersedia di perpustakaan sekolah. Bagaimana buku-buku paket pelajaran-pelajaran lain tentu keadaannya sama-saja. Sama-sama tidak memberi “pengayaan” dan memperluas wawasan siswa karena siswa-siswa kita di sekolah menengah hanya membaca satu buku dalam satu tahun :  yaitu…buku paket.//.Badaruddin Amir //tt

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button