Sorot

Mengintip Dinasti Kades dan Korupsi Dana Desa Terselubung

Mengintip Dinasti Kecil Kades dan Korupsi Dana Desa Terselubung

TANGKAP KADES NAKAL
Kepala desa merupakan ujung tombak pemerintah kabupaten, dimana Kades dipilih secara langsung oleh warga masyarakatnya. Tak urung, ajang pesta demokrasi di setiap desa memerlukan strategi, mulai dari kerabat keluarga juga penggalangan massa, bahkan memerlukan dana cukup besar. Pesta demokrasi ditingkat desa, terkadang unik dan juga ada yang bertaruh untuk memenangkan kandidatnya.
Bahkan Pilkades diwarnai beberapa cara kotor untuk memuluskan jagoannya. Begitu pula Balon Kades terkesan memaksakan kehendak. Tak heran, jika aparat petugas ekstra hati hati terhadap perhelatan Pilkades.
Hanya saja, setelah hasratnya terpenuhi artinya jadi pemenang Pilkades juntrungannya Balas Jasa, dan mereka sudah menyusun kabinetnya. Tak heran, jika Kades tersebut dalam pemerintahannya banyak dimonotongi keluarganya, anggaplah membentuk dinasti.
Seperti, anak kades jadi Sekdes, Bendahara, dan ada beberapa desa setiap proyek dikerjakan oleh keluarga dekatnya, seperti saudaranya dll. Cara cara inilah terkesan dinasti.
Kini Kades terkesan dimanjakan dengan sejumlah dana anggaran baik itu APBD maupun APBN dll, seperti Dana Desa yang rawan di korupsi oleh Kades bersama kroninya. Dananya pantastik hingga miliaran rupiah. Dana Desa ibarat gula yang banyak dikerumuni semut.
Pak Kades terkadang bingung menggunakan dana miliaran tersebut. Dana Desa yang dikucurkan pemerintah pusat, sebagai bentuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, agar desa tersebut bisa maju dan berkembang.
Pemerintah pusat berharap kiranya dana yang dikucurkan melalui Dana Desa bisa dimanfaatkan dengan sebaik baiknya sesuai mekanisme yang tertuang dalam Juknis.
Namun sepertinya ada juga Kades nakal dengan mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan.
Namun praktik memperkaya diri Kades diteropong sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebab dimana ada gula disitu ada semut.
Jangan heran jika bermunculan oknum maaf pengemis berdasi dengan berbagai cara, seperti alasan Bintek dll.
Lain lagi dengan istilah “Jatah” upeti, disinilah pak Kades terpaksa main “Akal Akalan” agar bisa memenuhi permintaan tersebut.
Proyek Kongkalikong Desa, dikerjakan tidak sesuai RAB, mereknya Rabat Beton tetapi materialnya hanya SERTU dengan alasan sertu berkualitas. Padahal Rabat Beton itu seharusnya memakai standar kualitas, apakah itu K250,K225 atau K220.
Tapi sebagian Kades menganggap itu tidak perlu yang penting beres. Jangan heran kalau tim pemeriksa terkesan tutup mata yang penting saling pengertian.
Dan persoalan itulah Kades bisa sedikit legah, oleh berbagai cara kotor oknum pengemis berdasi.
Kendati sudah banyak kades yang dipenjara terkait korupsi Dana Desa namun sang Kades masih saja berani bermain kotor. Padahal yang dikorupsi itu adalah uang rakyat.
Untuk itu, tim investigasi targettuntas online akan terus melakukan investigasi lapangan mengungkap skandal korupsi Dana Desa. Target hingga Tuntas.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button